Most searched:

Imam Musa al-Kazim

Manifestasi Wilayah Dalam Ucapan Imam Musa al-Kazim As

Imam Musa al-Kazim As menganalisa kedudukan Amirul Mukminin As di tengah masa yang sulit untuk menegakkan ajaran berdasarkan sumber-sumber kenabian yang sahih. Dari perspektif Imam al-Kazim As, kepemimpinan bukanlah sekadar posisi politik, tetapi jalan menuju petunjuk ilahi.

 

Kelahiran dan Imamah

Imam Musa al-Kazim As lahir pada 20 Dzulhijjah tahun 128 Hijriah di desa “Abwa”, antara Mekkah dan Madinah. Garis keturunan Musa bin Ja’far mencapai Amirul Mukminin As melalui empat perantara. Ayahnya, Imam as-Sadiq As, adalah Imam keenam Syiah dan ibunya, Hamidah Barbariyah.

Imam al-Kazim As lahir pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah dan memegang posisi Imamah pada usia 20 tahun. Masa kepemimpinannya sebagai Imam adalah 35 tahun. [1]

 

Kedudukan Istimewa Pemimpin Kaum Beriman di Jalan Petunjuk

Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Kazim, dijelaskan mengenai kedudukan istimewa Amirul Mukminin As dan kekeliruan orang-orang yang melangkahinya.

Imam al-Kazim As mengutip sabda Rasul Saw sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa aku tidak membiarkan siapa pun melangkahi Amirul Mukminin As, maka siapa pun yang melangkahinya maka ia adalah orang zalim. Dan siapapun yang setelahku berbaiat kepada siapapun selain Amirul Mukminin maka ia jatuh dalam kesesatan, kesalahan dan kekeliruan. Celakalah orang pertama, orang kedua dan orang ketiga! Dan celakalah orang keempat! Kemudian celakalah dia, celakalah dia dan ayahnya! Dan celakalah orang yang datang sebelum dia! Celakalah kedua orang itu dan kedua sahabat mereka! Semoga Allah tidak mengampuni mereka.” [2]

 

Wilayah Berdasarkan Ayat-ayat Al-Quran

Imam al-Kazim As menjelaskan makna sebenarnya dari ungkapan “orang yang memiliki pengetahuan dari Kitab” dalam ayat 43 Surah ar-Ra’d sebagai berikut: “Dalam ayat ini, Allah berfirman:

قُل کَفَی بِاللَّهِ شَهیداً بَینِي و بَینَکُم و مَن عِندَهُ عِلمُ الکِتاب

“Katakanlah, “Cukuplah Allah dan orang yang menguasai ilmu al-Kitab menjadi saksi antara aku dan kamu.”

Kemudian Imam al-Kazim As berkata: “Orang yang memiliki pengetahuan al-Kitab adalah Ali bin Abi Thalib As.”[3]

 

Kedudukan Para Imam

 

Imam al-Kazim As menjelaskan makna istilah “kewajiban terhadap Allah” dan kedudukan para Imam Maksum sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Imam al-Kazim As mengenai firman Allah, yang mengatakan:

یا حَسرَتی عَلی ما فَرَّطتُ في جَنبِ اللهِ

“Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah”

Beliau berkata: “Yang dimaksud dengan “kewajiban terhadap Allah” disini adalah Amirul Mukminin As dan setelah beliau para penerusnya hingga orang terakhir dari mereka.” [4]

 

Wilayah; Cermin dan Kiblat Kebenaran

Imam Musa bin Ja’far As menyamakan kedudukan Amirul Mukminin As dengan cermin dan pintu-pintu petunjuk.

Ibrahim bin Abu Bakar berkata: “Aku mendengar Musa bin Ja’far As berkata: Sesungguhnya Amirul Mukminin As adalah salah satu pintu dari pintu-pintu petunjuk; maka siapa pun yang masuk melalui pintu itu maka ia adalah orang beriman dan siapa pun yang keluar darinya maka ia adalah orang kafir; dan siapa pun yang tidak masuk maupun keluar darinya akan berada dalam keadaan di mana urusannya berada di tangan Allah dan Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki terhadap mereka.” [5]

 

Alasan penghapusan bagian dari Adzan

Riwayat ini menjelaskan mengapa frasa “حي على خير العمل” dihapus dari Adzan dan perbedaan antara alasan yang disampaikan dan kebenaran sesungguhnya.

Muhammad bin Abi Umair berkata: “Saya bertanya kepada Imam al-Kazim As mengapa mereka menghapus frasa “حي على خير العمل”, dari Adzan?”

Imam al-Kazim As berkata: “Apakah kamu ingin alasan lahiriah atau alasan batiniah?”

Saya berkata: “Saya ingin keduanya.”

Maka beliau berkata: “Alasan lahiriah yang mereka sebutkan adalah agar orang-orang tidak meninggalkan jihad karena kesibukan mereka akan salat; tetapi alasan batiniahnya adalah bahwa makna “Khair al-Amal” adalah wilayah Amirul Mukminin As dan keturunannya yang maksum; dan orang yang memerintahkan agar frasa “حي على خير العمل”  dihapus dari seruan azan, tujuannya adalah untuk mencegah ajakan atau dorongan untuk berwilayah.” [6]

 

Kedudukan Amirul Mukminin As

Dalam doa pada hari Mubahalah, Imam al-Kazim As menjelaskan kedudukan Amirul Mukminin As di sisi Nabi Muhammad Saw.

Dalam doa ini, beliau berkata: “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepada Muhammad dan kepada saudara dan penggantinya, Amirul Mukminin kiblat para pencari kebenaran.” [7]

 

Referensi

[1] Bihar al-Anwar, Allamah Majlisi, Jilid 48, hal. 1;; Al-Irsyad, Syekh Mufid, hal. 559.

[2] Bihar al-Anwar, jilid. 65, hal. 394

[3] Basair ad-Darajat, hal. 57; Bihar al-Anwar, jilid. 35, hal. 431; Tafsir Nur al-Tsaqalain, jilid 2, hal. 477

[4] Ushul al-Kafi, Jilid 1, hal. 145

[5] Ushul al-Kafi, Jilid  2, hal. 388

[6] Ilal al-Syara’i, Jilid 2, hal. 368

[7] Misbah al-Mutahajjid, hlm. 767

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *