Syaikh Muhammad Ja’far Tabasi menyatakan dalam sebuah artikel berjudul “Penyimpangan Peristiwa Besar Ghadir Khum dalam Perjalanan Sejarah”:
Sejarawan Ibn Ishaq menulis sesuatu dalam biografinya dan Jazari as-Shafi’i (wafat 883 H) meriwayatkannya dalam bukunya “Asna al-Matalib”:
“Rasulullah Saw mengutus Amirul Mukminin Ali As dan Khalid bin al-Walid sebagai wali ke Yaman dan Amirul Mukminin Ali As kembali dan bertemu dengan Rasulullah Saw di Mekah selama ibadah haji.
Sebagian sahabat Amirul Mukminin As mulai berselisih dan bergosip tentang tindakannya terkait rampasan perang dan berbicara menentangnya.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah Saw menyelesaikan ibadah haji dan sampai di Ghadir Khum, beliau menyampaikan khutbah tersebut untuk menyadarkan orang-orang tentang nilai Amirul Mukminin Ali As dan untuk membantah apa yang dikatakan orang lain tentang beliau.
Oleh karena itu, khutbah Ghadir tidak ada hubungannya dengan kekhalifahan Amirul Mukminin Ali dan disampaikan untuk menghibur beliau.”[1]
Kebenaran
Jawaban pertama
Ibn Ishaq, yang menjadi sumber kecurigaan tersebut, adalah tokoh yang sepenuhnya tercela di mata kaum Sunni, karena deskripsinya sebagai pembohong, tidak memiliki bukti, lemah, tukang fitnah, penipu dan pembuat bid’ah telah tersebar di kalangan para ahli.
Jelas bahwa deskripsi pembohong saja sudah cukup untuk mendiskreditkannya.
Sayangnya, Ibn Ishaq tidak menyebutkan khutbah Rasulullah Saw di mana beliau mengangkat tangan Amirul Mukminin Ali As dan berkata:
“مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهَذَا عَلِيٌّ مَوْلَاه.”
“Barangsiapa yang aku adalah pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya”
Jawaban kedua
Klaim Ibn Ishaq tidak memiliki sanad yang kredibel, terutama karena ia tidak meriwayatkan masalah ini dalam bentuk Musnad.
Jawaban ketiga
Klaim yang dikemukakan Ibn Ishaq tidak dapat diterima oleh akal sehat. Apakah ada yang mau menerima bahwa Rasulullah Saw akan mengumpulkan seratus dua puluh ribu orang dalam cuaca panas dan gurun tanpa air atau rumput untuk menyampaikan hal-hal tersebut kepada mereka?!
Sumber
[1] Asna al-Matalib, Hal. 51.