Pada tanggal 1 Rabiul Awwal tahun pertama kalender Hijriah, kaum Quraisy, yang khawatir akan penyebaran seruan Rasulullah dan peningkatan jumlah pengikutnya, memutuskan untuk menghentikan gerakan ini dengan membunuh Rasulullah. Rencana ini dilaksanakan pada malam yang dikenal sebagai Lailatul Mabit. Jibril memberitahu Rasulullah bahwa beliau tidak boleh tidur di tempat tidurnya yang biasa pada malam itu dan harus meninggalkan rumahnya untuk menghindari konspirasi kaum musyrik.
Pertemuan Dar an-Nadwah dan rencana konspirasi
Para pemimpin Quraisy, termasuk Abu Jahal, Abu Sufyan, dan para tetua suku lainnya, hadir dalam pertemuan ini. Awalnya, diusulkan agar Rasulullah dipenjara sehingga beliau meninggal secara alami seperti para penyair sebelumnya. Tetapi usulan ini ditolak, karena kemungkinan besar para pengikutnya akan membebaskannya. Kemudian, diusulkan agar Rasulullah diasingkan dari Makkah, tetapi rencana ini juga ditolak karena kekhawatiran akan pengaruhnya di antara suku-suku lain.
Akhirnya, Abu Jahal mengusulkan agar seorang pemuda pemberani dipilih dari setiap suku dan mereka semua menyerang Rasulullah Allah secara bersamaan sehingga darahnya akan terbagi di antara suku-suku dan Bani Hasyim tidak akan dapat membalas dendam kepada seluruh Quraisy. Rencana ini disetujui dan Quraisy bersiap untuk melaksanakannya.(1)
Konspirasi yang Diberitahukan Kepada Rasulullah
Allah memberitahukan Rasulullah melalui Jibril tentang konspirasi ini, dan Rasulullah memerintahkan Amirul Mukminin As untuk tidur di ranjangnya menggantikan beliau, dan beliau sendiri diam-diam meninggalkan rumah.
Ibnu Abbas meriwayatkan: “Kaum musyrik berkumpul di Dar an-Nadwah untuk bermusyawarah tentang pembunuhan Rasulullah. Sementara itu, Jibril datang kepada Rasulullah dan memberitahukan rencana mereka dan memerintahkannya untuk tidak tidur di tempat tidurnya malam itu. Maka ketika Rasulullah memutuskan untuk meninggalkan kota pada malam hari, beliau memerintahkan Amirul Mukminin As untuk tidur di tempat tidurnya. Amirul Mukminin As melakukannya dan menyelimutkan kain hijau Rasulullah di sekeliling tubuhnya dan meletakkan pedang di sisinya.
Ketika kaum Quraisy sedang bersembunyi dan bermaksud membunuh Rasulullah, beliau keluar dari rumah, sementara mereka duduk di dekat pintu dan jumlah mereka mencapai dua puluh lima orang.
Rasulullah mengambil segenggam debu dari tanah dan menaburkannya di atas kepala mereka dan membacakan ayat 1 sampai 9 Surah Yasin:
يٰسۤ. وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ. اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ. عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ. تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ. لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ. لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ. اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ. وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ
“Yā Sīn.Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar salah seorang dari rasul-rasul. (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, agar engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai. Sungguh, benar-benar berlaku perkataan (ketetapan takdir) terhadap kebanyakan mereka, maka mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu (tangan mereka yang terbelenggu diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah. Kami memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat.”
Kemudian seseorang berkata kepada mereka: “Apa yang kalian tunggu? Demi Allah, kalian telah tertipu.” Dia lewat di dekat kalian dan menaburkan debu di atas kepala kalian masing-masing!”
Mereka berkata: “Demi Allah, kami tidak melihatnya.”
Kemudian Allah menurunkan ayat 30 Surah Anfal:
وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ
“(Ingatlah) ketika orang-orang yang kufur merencanakan tipu daya terhadapmu (Nabi Muhammad) untuk menahan, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (2)
Pengorbanan Amirul Mukminin As
Ketika kaum kafir Quraisy memutuskan untuk membunuh Rasulullah Saw. Pada saat itu, Jibril datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: “Jangan tidur di tempat tidurmu yang biasa untuk malam ini.”
Ketika malam tiba dan kegelapan menyelimuti segalanya, para penentang berkumpul di dekat rumah Rasulullah Saw dan menunggu beliau tidur lalu diam-diam menyerang beliau.
Ketika Rasulullah Saw melihat keadaan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib As: “Tidurlah di tempat tidurku dan kenakan jubah Hadrami hijau ini lalu tidurlah, tidak seorang pun dari mereka akan membahayakanmu.” Rasulullah Saw selalu tidur dengan jubah hijau ini. (3)
Allah Berbangga
Abu Said Al-Khudri meriwayatkan sebuah riwayat di mana Allah bangga akan pengorbanan Amirul Mukminin As untuk menyelamatkan nyawa Rasulullah Muhammad Saw dan mengirimkan Jibril dan Mikail ke bumi untuk melindunginya.
Abu Said Al-Khudri, salah seorang sahabat Rasulullah Saw, meriwayatkan: “Ketika Rasulullah Saw hendak meninggalkan Makkah dan Amirul Mukminin As tidur di tempat tidur Rasulullah Saw, Allah SWT mewahyukan kepada Jibril dan Mikail: “Aku telah menetapkan kematian salah seorang dari kalian berdua; siapakah di antara kalian yang rela mengorbankan dirinya untuk yang lain?” Mereka berdua lebih memilih hidup.
Kemudian Allah mewahyukan kepada mereka: “Mengapa kalian tidak seperti Ali bin Abi Thalib As? Aku telah menetapkan perjanjian persaudaraan antara dia dan Muhammad Saw dan menjadikan umur salah satu dari mereka lebih panjang daripada yang lain.”
Ali As memilih kematian dan lebih memilih Muhammad Saw untuk hidup dan tidur di ranjangnya, sekarang pergilah dan lindungilah dia dari musuh-musuhnya.”
Jibril dan Mikail turun; yang satu duduk di atas kepalanya dan yang lain di kakinya untuk melindunginya dari musuh-musuhnya dan untuk menangkis batu-batu yang dilemparkan kepadanya.
Pada saat itu Jibril berkata: “Berbahagialah engkau, wahai putra Abu Thalib! Siapakah yang seperti engkau? Allah bangga kepadamu melebihi para malaikat di tujuh langit.”
Kemudian Allah menurunkan ayat 207 Surah Al-Baqarah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
“Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba(-Nya).”. (4)
Pengorbanan Pertama Rasulullah
Imam As-Sajjad As merujuk pada malam Lailatul Mabit dan pengorbanan Amirul Mukminin As dan berkata: “Orang pertama yang menjual nyawanya demi Allah dan mengorbankan nyawanya adalah Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib As. Ketika kaum musyrik tidak melihat Rasulullah Saw di tempat tidurnya, mereka berusaha membunuh Rasulullah Saw dan kemudian Amirul Mukminin As bangkit dari tempat tidur Rasulullah.”(5)
Sumber:
- As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 1, Hal. 480
- Amali at-Thusi, Jilid 1, Hal. 445
- Tarikh at-Thabari, Jilid 2, Hal. 372
- Syawahid at-Tanzil, Jilid 1, Hal. 123
- Al-Manaqib, Jilid 2, Hal. 64