Imamah, dengan ciri-cirinya seperti pengetahuan yang tak terbatas, akhlak yang unggul, dan peran fundamental dalam melestarikan agama dan mempersatukan masyarakat, adalah kedudukan yang melampaui kemampuan manusia. “Hadits Marw” adalah kumpulan argumen kuat Imam Ar-Ridha As mengenai syarat dan ciri-ciri Imamah, yang diungkapkan di kota Marw dan dalam percakapan dengan Abdul Aziz ibn Muslim. Riwayat ini membuktikan kedudukan Imamah yang tinggi dengan menggunakan bukti Al-Quran dan argumen rasional.
Definisi Imamah
Imam Ar-Ridha As menyatakan bahwa tidak mungkin manusia mengenal imam untuk kemudian dipilih, karena Imam harus memiliki karakteristik yang manusia biasa tidak bisa memahaminya.
Abdul Aziz bin Muslim, salah seorang sahabat Imam Ar-Ridha As, meriwayatkan bahwa di Marw, kami berdiskusi dengan Imam Ar-Ridha As tentang perbedaan pendapat orang-orang mengenai masalah Imamah. Imam tersenyum dan berkata: “Orang-orang ini bodoh dan telah tertipu oleh pendapat dan agama mereka sendiri. Sesungguhnya Allah tidak mengambil nyawa Nabi-Nya Saw kecuali untuk menyempurnakan agama baginya dan menurunkan Al-Quran sebagai kitab yang menjelaskan sepenuhnya semua kebutuhan manusia, dari aturan dan batasan hingga yang diperbolehkan dan yang dilarang, dan Dia berfirman:
مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ
“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab.” (QS. Al-An’am: 38)
Imam Ar-Ridha As, merujuk pada kisah Nabi Ibrahim As, menganggap kedudukan Imamah hanya diperuntukkan bagi individu-individu terpilih dan suci, yang kemudian diwariskan setelah Nabi Saw kepada Amirul Mukminin As dan kemudian kepada keturunannya yang maksum.
Kemudian beliau melanjutkan: “Apakah mereka mengetahui apa kedudukan dan posisi Imamah di antara umat, sehingga pilihan dan kehendak mereka diperbolehkan di dalamnya? Sesungguhnya Imamah memiliki kedudukan yang lebih tinggi, tingkatan yang lebih tinggi, ambang batas yang lebih tinggi, dan kedalaman yang lebih dalam daripada yang dapat dicapai manusia dengan akal mereka sendiri, atau dipahami dengan pendapat dan pandangan mereka sendiri, atau memilih seorang Imam berdasarkan pilihan mereka sendiri. Imamah adalah kedudukan yang dicapai Nabi Ibrahim setelah beliau mencapai status kenabian dan khalil. Imamah ini adalah tingkatan dan keutamaan ketiga yang Allah berikan kepadanya dan melalui itu Dia meninggikan namanya, dan Allah Swt berfirman:
قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًاۗ
“Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.”(QS. Al-Baqarah: 124)
Khalilullah berkata dengan gembira: “Dan dari keturunan dan garis keturunanku juga?” Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi berfirman: “Perjanjian dan perintah-Ku tidak akan sampai kepada orang-orang yang berbuat zalim.” Ayat ini membatalkan Imamah setiap penindas hingga Hari Kiamat dan menjadikannya khusus bagi orang-orang pilihan dan suci. Kemudian Allah Yang Maha Kuasa memuliakannya dan menempatkan Imamah pada keturunan dan umat pilihannya dan berfirman:
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةًۗ وَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ. وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَۙ
“Kami juga menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishaq (anak) dan sebagai tambahan (Kami anugerahkan pula) Ya‘qub (cucu). Masing-masing Kami jadikan orang yang saleh. Kami menjadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk atas perintah Kami dan Kami mewahyukan kepada mereka (perintah) berbuat kebaikan, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, serta hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS. Al-Anbiya: 72-73)
Imamah ini selalu tetap pada keturunannya dan mereka mewariskannya dari satu sama lain; abad demi abad, hingga sampai kepada Nabi Saw. Allah berfirman:
اِنَّ اَوْلَى النَّاسِ بِاِبْرٰهِيْمَ لَلَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ وَهٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), dan orang-orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran: 68)
Ketidakmampuan Manusia untuk Sepenuhnya Mengenali Imam
Imam Ar-Ridha As menekankan ketidakabsahan pilihan manusia di hadapan kehendak ilahi, dengan mengutip ayat-ayat dari Al-Quran, dan menganggap penyimpangan dari jalan kebenaran sebagai akibat dari berpaling dari perintah Allah dan Rasul-Nya.
Beliau berkata: “Mereka berpaling dari pilihan Allah Yang Maha Kuasa dan Rasul-Nya dan mengutamakan pilihan mereka sendiri yang salah; padahal Al-Quran mengatakan:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qasas: 68)
dan juga mengatakan:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ
“Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka” (QS. Al-Ahzab: 36)
Dia juga berfirman:
مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ. اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ. اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ. اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ. سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ. اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ
“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil putusan?. Atau, apakah kamu mempunyai kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu pelajari? Sesungguhnya di dalamnya kamu dapat memilih apa saja yang kamu sukai. Atau, apakah kamu memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat, (yakni) bahwa kamu dapat mengambil putusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka (kaum musyrik) siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap (putusan yang diambil itu). Atau, apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Kalau begitu, hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang benar. (QS. Al-Qalam: 36-41)
Mengenai orang-orang yang tidak merenungkan ayat-ayat Allah, Dia berfirman:
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Dan mengenai orang-orang yang tidak menerima kebenaran, Dia berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَاَنْتُمْ تَسْمَعُوْنَ. وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ قَالُوْا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَۚ. اِنَّ شَرَّ الدَّوَاۤبِّ عِنْدَ اللّٰهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ. وَلَوْ عَلِمَ اللّٰهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لَّاَسْمَعَهُمْۗ وَلَوْ اَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perintah dan larangan-Nya). Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik dan musyrik) yang berkata, “Kami mendengarkan.” Padahal, mereka tidak mendengarkan (tidak mengamalkannya). Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk yang bergerak di atas bumi dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti. Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, pasti Dia jadikan mereka dapat mendengar. Seandainya Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling dan memang memalingkan diri. (QS. Al-Anfal: 20-23)
Konsekuensi Memilih Imam yang Salah
Imam Ar-Ridha As menekankan, dengan mengutip ayat-ayat dari Al-Quran, bahwa pilihan manusia yang jauh dari standar ilahi bukan hanya menjauhkan dari keselamatan, tetapi juga sumber kesengsaraan dan murka Allah.
Imam Ar-Ridha As berkata: “Sekarang kita harus bertanya: Apakah manusia memiliki kemampuan untuk memilih Imam seperti itu? Apakah orang yang dipilih oleh orang-orang itu memiliki kualitas dan karakteristik yang membuat mereka lebih menyukainya daripada yang lain? Dengan tidak menghormati Rumah Allah dan mengabaikan ajaran Al-Quran, mereka memisahkan diri dari kebenaran. Mereka lupa bahwa satu-satunya jalan menuju keselamatan dan kebaikan adalah dengan mengikuti Kitab Allah; tetapi mereka lebih memilih untuk mengikuti keinginan mereka sendiri. Akibatnya adalah murka ilahi, permusuhan dengan Allah, dan kesengsaraan abadi. Allah menggambarkan situasi ini dalam Al-Quran sebagai berikut:
وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَࣖ
“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Qasas: 50)
Al-Quran juga mengatakan:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
“sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang.” (QS. Ghafir: 35)
Salam sejahtera atas Nabi Islam dan keluarga sucinya.
Ciri-Ciri Imam yang Berkualifikasi
Imam Ar-Ridha As menyebutkan ciri-ciri utama dan esensial seseorang yang seharusnya menjadi Imam dengan menyebutkan sebelas ciri fundamental. Maka beliau berkata: “Bagaimana mereka (manusia) dapat memilih seorang Imam, sedangkan Imam harus memiliki kepribadian dengan ciri-ciri mulia berikut ini:
- Pengetahuan dan Keilmuan: Ia harus berpengetahuan luas dan jauh dari kebodohan dan ketidaktahuan.
- Bertanggung Jawab: Ia harus menjadi pelindung dan penjaga yang tidak menghindari tanggung jawabnya dan tidak bermalas-malasan.
- Maksum: Ia harus menjadi sumber kemurnian, kesucian, cahaya, zuhud, pengetahuan, dan ibadah.
- Pilihan Allah: Ia harus dipilih oleh Rasulullah Saw untuk panggilan ilahi dan diangkat atas perintah beliau.
- Keturunan Fatimah: Ia harus berasal dari keturunan Sayyidah Fatimah az-Zahra As, wanita suci dan terpilih.
- Keturunan Hasyim: Ia harus memiliki keturunan yang suci dan tanpa cela dan berasal dari keluarga Quraisy terbaik, Bani Hasyim yang paling mulia dan keturunan Nabi Muhammad Saw dan dicintai oleh Allah Yang Maha Kuasa.
- Mulia: Ia haruslah yang paling mulia di antara para mulia dan berasal dari keturunan Abdu Manaf.
- Halim: Ia haruslah penyebar kebenaran ilmu pengetahuan dan memiliki kesempurnaan kesabaran dan ketabahan.
- Mudabbir: Ia haruslah penuh dengan spiritualitas dan kebenaran Imamah serta memahami strategi dan politik.
- Muta’: ketaatannya wajib dan bertindak atas perintah Allah.
- Nasih: selalu mengharapkan yang terbaik bagi hamba-hamba Allah dan penjaga agama Allah Yang Maha Kuasa.
Kesempurnaan Agama dan Pemilihan Amirul Mukminin As
Dalam Hadits Marw, Imam Ar-Ridha As merujuk pada ayat Ikmal, mengingat pengumuman umum tentang Imamah Amirul Mukminin As oleh Nabi Muhammad Saw selama Haji Wada’. Beliau berkata: “Dalam Haji Wada’, yang merupakan haji terakhir Nabi Saw, ayat ini diturunkan:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Masalah Imamah termasuk dalam kesempurnaan agama dan penyempurnaan nikmat.
Nabi Saw tidak wafat tanpa menjelaskan semua tanda-tanda agama kepada umat, menjelaskan jalan mereka, dan menempatkan mereka di jalan kebenaran; dan menjadikan Amirul Mukminin As sebagai pemimpin dan pembimbing mereka. Beliau tidak meninggalkan apa pun yang dibutuhkan umat, kecuali beliau sudah menjelaskannya. Barangsiapa yang mengira bahwa Allah belum menyempurnakan agamanya, maka ia telah menolak Kitab Allah; dan barangsiapa yang menolak Kitab Allah maka ia adalah kafir.”
Imam Ar-Ridha As melanjutkan dengan menjelaskan sifat dan karakteristik Imam. Beliau berkata: “Imam itu seperti matahari, bulan, bintang, dan lampu di kegelapan yang menuntun orang yang haus dan tersesat; Imam adalah sumber rahmat (seperti awan pembawa hujan) dan sumber keamanan serta perlindungan (seperti ayah dan saudara yang penyayang) bagi manusia. Imam adalah bukti sejati dan khalifah Allah, tanpa cela dan dikaruniai pengetahuan ilahi. Imam memiliki kedudukan yang sulit dipahami oleh akal manusia, sulit dikenali oleh pikiran sempit, dan sulit digambarkan oleh para pembicara.”
Ketidakabsahan Pilihan Manusia untuk Jabatan Imamah
Memahami kebenaran tentang jabatan Imamah berada di luar batas akal dan persepsi manusia yang terbatas; karena jabatan ini adalah jabatan ilahi dan istimewa. Dalam hal ini, Imam Ar-Ridha As menjelaskan: “Memahami rahasia Imam dan penggantinya berada di luar kemampuan para penafsir dan jangkauan manusia. Imam adalah pribadi yang istimewa yang jabatan Imamahnya hanya ada dalam keluarga Nabi Saw. Orang-orang yang ingin memilih pemimpin selain mereka dengan akal mereka yang tidak memadai berada dalam kesalahan besar. Dengan mengandalkan pendapat mereka sendiri, orang-orang ini hanya berakhir dalam kesesatan, kebohongan, dan jatuh ke dalam jurang kesesatan. Dengan sadar dan mengerti, mereka meninggalkan Imam mereka dan mengangkat panji kebohongan:
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَكَانُوْا مُسْتَبْصِرِيْنَۙ
“ Setan menjadikan terasa indah perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka dahulu adalah orang-orang yang berpandangan tajam,” (QS. Al-Ankabut: 38)
Pengetahuan dan Keunggulan Ilahi Para Imam
Imam Ar-Ridha As, dengan mengutip ayat-ayat dari Al-Quran, menekankan hubungan yang tak terpisahkan antara kedudukan Imamah dan pengetahuan Ilahi, serta menganggap keunggulan ilmu para Imam sebagai karunia langsung dan istimewa dari Allah. Beliau berkata: “Allah menganugerahkan kepada para nabi dan Imam As pengetahuan dari perbendaharaan pengetahuan dan hikmah-Nya yang tidak Dia berikan kepada orang lain. Oleh karena itu, pengetahuan mereka lebih unggul daripada pengetahuan semua orang pada zaman mereka. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:
اَفَمَنْ يَّهْدِيْٓ اِلَى الْحَقِّ اَحَقُّ اَنْ يُّتَّبَعَ اَمَّنْ لَّا يَهِدِّيْٓ اِلَّآ اَنْ يُّهْدٰىۚ فَمَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ
“Maka, apakah yang membimbing pada kebenaran lebih berhak diikuti ataukah yang tidak mampu membimbing bahkan perlu dibimbing? Maka, mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu memberi keputusan?” (QS. Yunus: 35)
Dan Dia juga berfirman:
وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Dan tentang Talut, Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۗ وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.” Allah menganugerahkan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (kekuasaan dan rezeki-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:247)
Dan tentang Nabi-Nya, Allah berfirman:
وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
“Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS. An-Nisa: 113)
Dan tentang keluarga Nabi, yang berasal dari keluarga Ibrahim As:
اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا. فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ صَدَّ عَنْهُۗ وَكَفٰى بِجَهَنَّمَ سَعِيْرًا
“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka. Lalu, di antara mereka ada yang beriman kepadanya dan di antara mereka ada pula yang berpaling darinya. Cukuplah (bagi mereka neraka) Jahanam yang apinya menyala-nyala. (QS. An-Nisa: 54-55)
Ilham dan Dukungan Ilahi
Dalam sabda yang mencerahkan ini, Imam Ar-Ridha As mengungkapkan manifestasi rahmat ilahi dalam diri Imam dan menunjukkan bagaimana Allah, dengan menganugerahkan hikmah dan melindungi orang-orang pilihan-Nya dari kesalahan, menjadikan mereka bukti nyata bagi hamba-hamba-Nya. Imam melanjutkan: “Kapan pun Allah memilih seorang hamba untuk memperbaiki urusan hamba-hamba-Nya, Dia menganugerahkan kepadanya kelapangan dada dan membuat sumber hikmah dan pemahaman mengalir di dalam hatinya. Allah mengajarkan kepadanya pengetahuan-Nya melalui ilham; sedemikian rupa sehingga ia tidak gagal menjawab pertanyaan apa pun dan tidak tersesat dalam mengetahui kebenaran dan kebenaran. Orang seperti itu tidak mungkin salah di hadapan Allah dan mendapatkan pertolongan dan dukungan ilahi; oleh karena itu, ia dilindungi dari kesalahan, kekeliruan, dan keputusan yang salah. Allah telah menganugerahkan kepadanya karakteristik ini agar ia dapat menjadi bukti nyata bagi semua hamba yang memahami-Nya.
ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
“Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah adalah Pemilik karunia yang agung.” (QS. Al-Hadid: 21)
Warisan Imamah dalam Keluarga Nabi
Dalam hadits ini, disebutkan ciri-ciri Imam, termasuk keunggulan ilmu dan akhlak, kelapangan dada, keberanian dalam menerapkan aturan ilahi, dan keistimewaan tiada tanding.
Imam Ar-Ridha As berkata: “Kedudukan Imamah ini dikhususkan untuk para imam, dan atas perintah Allah, diserahkan kepada Amirul Mukminin As, karena Allah Yang Maha Kuasa telah mewajibkannya. Kemudian jabatan itu dialihkan kepada keturunan pilihannya; orang-orang yang diberi ilmu dan iman oleh Allah, berdasarkan firman Allah Yang Maha Kuasa:
وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَالْاِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ فَهٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلٰكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata (kepada orang-orang kafir), “Sungguh, kamu benar-benar telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari Kebangkitan. Maka, inilah hari Kebangkitan itu, tetapi dahulu kamu tidak mengetahui (bahwa itu benar adanya).” (QS. Ar-Rum: 56)
Mereka adalah keturunan Amirul Mukminin As sampai hari Kiamat, karena tidak ada nabi setelah Muhammad Saw. Bagaimana mungkin orang-orang bodoh ini menetapkan Imam bagi diri mereka sendiri, padahal Imamah adalah kedudukan para nabi dan warisan para penerus? Imamah adalah kekhalifahan dari Allah dan Rasul-Nya, kedudukan Amirul Mukminin As, dan warisan Hasan dan Husain As.
“Sesungguhnya Imamah adalah puncak agama, sistem umat Islam, dan kehormatan orang-orang beriman. Imamah adalah landasan Islam yang murni dan cabangnya yang diberkati. Melalui Imamah, salat, puasa, zakat, haji, dan jihad dilaksanakan dengan benar, harta rampasan dan sedekah berlimpah, batasan dan peraturan ditegakkan, dan perbatasan serta wilayah negara tetap aman. Imam menyatakan apa yang halal dan haram menurut Allah, menetapkan batasan-batasan-Nya, membela agama-Nya, dan mengajak kepada jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan bukti yang jelas.”
Hadits Marw membuktikan bahwa Imamah adalah tanggung jawab ilahi dan bukan sekadar jabatan politik yang dipilih. Dengan riwayat ini, Imam Ar-Ridha As menekankan hubungan erat antara kenabian dan Imamah serta menunjukkan pentingnya keberadaan seorang Imam yang maksum untuk pelestarian agama secara sempurna dan pencegahan penyimpangan manusia.
Hadits ini membedakan antara jalan ilahi dan pilihan manusia serta menekankan bahwa kriteria utama kepemimpinan adalah kesucian yang melekat dan pengetahuan ilahi, yang hanya ada dalam keluarga Nabi Saw.
Sumber:
- Ushul al-Kafi, Jilid 1, Hal. 198