Most searched:

Kebersinambungan Jalan Wilayah Dalam Keterasingan Dan Kesyahidan Imam Ali Ar-Ridha As

Ali bin Musa ar-Ridha As, Imam kedelapan Syiah dan keturunan Nabi Muhammad Saw, memegang Imamah pada usia 35 tahun. Masa hidupnya bertepatan dengan Kekhalifahan Abbasiyah. Selama suksesi yang dipaksakan oleh Ma’mun al-Abbasi, beliau menggunakan kesempatan yang ada untuk memperkenalkan keutamaan dan membuktikan kedudukan Amirul Mukminin As sebagai penerus Nabi Muhammad Saw yang sah. Dengan mengutip riwayat dan ikut dalam perdebatan ilmiah, beliau menunjukkan keunggulan ilmiah dan spiritual Amirul Mukminin As. Akhirnya, pada hari terakhir bulan Safar tahun 203 H, Ma’mun al-Abbasi membunuh beliau di Thus pada usia 55 tahun.

 

Pemberitaan Kesyahidan oleh Amirul Mukminin As

Dalam sebuah riwayat terkenal, Amirul Mukminin As memberitakan syahidnya Imam Ar-Ridha As di negeri Khurasan di tangan para penindas.

Amirul Mukminin As bersabda: “Segera seorang dari keturunanku akan terbunuh di negeri Khurasan karena penindasan dan ketidakadilan dengan racun. Namanya adalah namaku, dan nama ayahnya adalah Musa bin Imran. Ketahuilah bahwa siapa pun yang datang kepadanya di tengah pengasingannya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya di masa lalu dan masa depan.” [1]

 

Mengutip Al-Quran untuk membuktikan kedudukan Amirul Mukminin As

Dalam percakapan dengan Imam Ar-Ridha As, Yunus bin Abdurrahman menyebutkan salah satu bukti Al-Quran tentang kedudukan dan nama Amirul Mukminin As.

Yunus bin Abdurrahman, salah satu perawi hadits yang merupakan salah satu tokoh ijma’ dan salah satu murid khusus para Imam, berkata: “Saya memberi tahu Imam Ar-Ridha As bahwa beberapa orang bertanya di mana dalam Kitab Allah nama Amirul Mukminin Ali As disebutkan?”

Saya menjawab mereka bahwa salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini adalah ayat ini:

وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّاࣖ

“dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.” (QS. Maryam: 50)

Sebagai penegasan atas pernyataan saya, Beliau bersabda: “Kamu berkata benar, ini adalah kebenaran.” [2]

 

Nasib Mereka yang Tidak Menerima Wilayah

Sebagai tanggapan atas pertanyaan Ma’mun tentang sebuah ayat dari Al-Quran, Imam Ar-Ridha As menafsirkannya sebagai ketidakmampuan untuk menerima Wilayah Ali bin Abi Thalib As.

Abu Shalt al-Harawi, salah seorang sahabat Imam Ar-Ridha As, berkata: Suatu hari Ma’mun bertanya kepada Imam Ar-Ridha As tentang ayat 101 Surah Al-Kahf, yang menyatakan:

الَّذِيْنَ كَانَتْ اَعْيُنُهُمْ فِيْ غِطَاۤءٍ عَنْ ذِكْرِيْ وَكَانُوْا لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَمْعًاࣖ

“(yaitu) orang-orang yang mata (hati)-nya dalam keadaan tertutup dari ingat kepada-Ku dan mereka tidak sanggup mendengar.” (QS. AL-Kahfi: 101)

Imam Ar-Ridha As menjawab: “Tabir yang menutupi mata tidak menghalangi hati untuk mengingat Allah, karena mengingat Allah tidak dapat dilihat dengan mata. Bahkan, dalam ayat ini, Allah menyamakan orang-orang yang tidak menerima wilayah Ali bin Abi Thalib As dengan orang-orang buta, karena sabda Rasul Saw berat dan sulit bagi mereka, dan mereka tidak mampu mendengar dan menerimanya.” [3]

 

Benteng Wilayah yang Aman

Dalam sebuah riwayat dari para leluhurnya yang terhormat, Imam Ar-Ridha As menjelaskan kedudukan yang tinggi dan istimewa dari Wilayah Amirul Mukminin As, yang menurut firman Allah Swt, adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan dari api neraka.

Dalam sebuah riwayat yang terdokumentasi dari serangkaian imam maksum, dari Imam Ar-Ridha As hingga Nabi Muhammad Saw dan bahkan dari para malaikat terdekat dan sarana penciptaan (lauh dan qalam), diriwayatkan bahwa Allah Swt berfirman: “Wilayah Ali bin Abi Thalib As adalah benteng yang kuat; maka siapa pun yang masuk ke dalamnya akan aman dari api neraka.” [4]

 

Khalifah Ilahi

Dalam salah satu riwayatnya, Imam Ar-Ridha As menjelaskan pentingnya kedudukan Khilafah Ilahi dan status Amirul Mukminin As dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan mengutip dari para leluhurnya yang mulia dari Nabi Muhammad Saw, dan memperkenalkannya sebagai Khalifah Ilahi keempat.

Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari para leluhurnya yang terhormat dari Amirul Mukminin As bahwa Imam berkata: “Suatu hari, kami sedang berjalan bersama Nabi Muhammad Saw di salah satu lorong Madinah ketika tiba-tiba seorang pria tinggi, berbadan tegap dengan janggut lebat mendekati kami. Dia memberi salam kepada Nabi Muhammad Saw, dan setelah menanyakan kesehatannya, dia menoleh kepadaku dan berkata: “Salam sejahtera atasmu, wahai Khalifah keempat, dan semoga rahmat dan berkah Allah menyertaimu.”

Kemudian Amirul Mukminin As menoleh kepada Nabi Muhammad Saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah pernyataan ini benar?”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Ya, memang demikian.”

Setelah orang itu lewat dan pergi, saya berkata: “Wahai Rasulullah! Apa maksud dari pernyataan orang tua ini dan penegasanmu?”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Segala puji bagi Allah! Kamu digambarkan dengan sifat yang telah Allah sebutkan dalam Al-Quran:

انِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ

“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Khalifah Allah pertama yang ditempatkan di bumi adalah Adam. Kemudian Allah berfirman tentang Daud:

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ

“(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak” (QS. Shad: 26)

Maka Daud adalah khalifah Allah yang kedua. Allah juga berfirman tentang Musa As yang berkata kepada Harun:

اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ

““Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah (dirimu dan kaummu)” (QS. Al-A’raf: 142)

Maka Harun adalah khalifah ketiga yang diangkat Musa sebagai penggantinya.

Kemudian Nabi Saw merujuk pada ayat lain:

وَاَذَانٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ اِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْاَكْبَرِ

“Suatu maklumat dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar” (QS. At-Taubah: 3)

Rasul Saw melanjutkan: “Engkau adalah penyampai pesan dari Allah dan Rasulnya, pelaksana wasiatku, wakilku, orang yang melunasi hutang dan orang yang mengembalikan amanahku; dan kedudukanmu bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa, kecuali bahwa tidak akan ada nabi setelahku. Oleh karena itu, engkau adalah khalifah keempat yang diberi salam oleh orang tua itu. Apakah engkau tahu siapa orang tua itu?”

Aku berkata, “Tidak.”

Rasul Saw berkata, “Dia adalah saudaramu, Khidir As.” [5]

 

Sang Siddiq dan Faruq Umat Islam

Imam Ar-Ridha As meriwayatkan bahwa dalam ajaran Nabi, Amirul Mukminin As memiliki kedudukan yang istimewa dan spesial. Beliau diperkenalkan sebagai orang pilihan Allah, penerus Nabi Saw dan salah satu pilar petunjuk dan keselamatan umat Islam.

Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari para leluhurnya bahwa Amirul Mukminin As bersabda bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bagi setiap umat, ada seorang Siddiq dan Faruq; dan Siddiq dan Faruq umat ini adalah Ali bin Abi Thalib As. Dia adalah bahtera keselamatan dan pintu taubat umat ini, dan dia seperti Yusya’, Syam’um dan Dzul-Qarnain umat ini.

Wahai manusia! Ali adalah orang pilihan Allah dan penggantiku setelahku; Dia adalah Amirul Mukminin As dan washi terbaikku. Barangsiapa menentangnya, maka ia menentangku; barangsiapa menindasnya, sesungguhnya ia telah menindasku; dan barangsiapa berbuat licik, sesungguhnya ia telah berbuat licik padaku. Barangsiapa berbuat baik kepadanya, sesungguhnya ia telah berbuat baik kepadaku; barangsiapa menganiayanya, sesungguhnya ia telah menganiayaku; dan barangsiapa memusuhinya, sesungguhnya ia telah memusuhiku.” Barangsiapa bersahabat dengannya maka ia adalah sahabatku; karena dia adalah saudaraku dan penolongku, dia diciptakan dari tanahku dan aku dan dia adalah satu cahaya.” [6]

 

Bahtera Keselamatan

Imam Ar-Ridha As menunjukkan hubungan yang tak terputus antara wilayah Amirul Mukminin As dan ketaat pada para Imam, yang merupakan satu-satunya jalan untuk bergabung dalam  golongan kebenaran.

Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari leluhurnya yang terhormat, dari Amirul Mukminin As bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa ingin menaiki bahtera keselamatan dan berpegang pada pegangannya yang kuat dan berpegang pada tali Allah yang kuat, maka hendaklah ia mencintai Ali setelahku dan membenci musuhnya, dan hendaklah ia mengikuti para Imam hidayah dari keturunannya, karena mereka adalah penerus, pelindung dan hujjah ilahi bagi manusia setelahku. Mereka adalah pemimpin umatku dan penghulu para nabi menuju Surga. Ketahuilah bahwa pengikut mereka adalah golonganku dan golongan Allah Swt, dan musuh mereka adalah golongan Setan.” [7]

Di mata Imam Ar-Ridha As, Amirul Mukminin As adalah perwujudan ikatan ilahi dan poros petunjuk bagi umat.

Ibnu Yazid meriwayatkan: “Aku bertanya kepada Abul Hasan ar-Ridha As tentang ayat:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah” (QS. Ali Imran: 103)

Imam berkata: “Tali Allah adalah Ali bin Abi Thalib As.” [8]

 

Manifestasi nama “Ali” di Pada Peristiwa Mi’raj

Dengan menyebutkan kisah Mi’raj, Imam Ar-Ridha As menganggap hubungan antara Nabi Saw dan Amirul Mukminin As melampaui hubungan manusia dan, sebenarnya, merupakan urusan ilahi yang telah ditakdirkan.

Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari leluhurnya yang terhormat, dari Amirul Mukminin As bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Pada malam aku diangkat untuk Mi’raj, Jibril menempatkanku di sayap kanannya dan membawaku ke langit.

Di tengah perjalanan, aku ditanya: “Siapakah yang telah engkau tunjuk sebagai penggantimu bagi penduduk bumi?”

Aku menjawab: “Orang terbaik di antara penduduk bumi, Ali bin Abi Thalib As, yang merupakan saudaraku, sahabatku, menantuku dan sepupuku.”

Kemudian aku ditanya: “Wahai Muhammad! Apakah engkau mencintainya?”

Aku menjawab: “Ya, ya Wahai Tuhan semesta alam!”

Kemudian datanglah perintah: “Cintailah dia dan perintahkanlah kaummu untuk mencintainya; sesungguhnya Aku adalah Ali, Yang Maha Tinggi dan Aku telah memilih namanya dari Diriku dan menamakannya Ali.”

Kemudian Jibril turun dan berkata: “Allah mengirimkan salam kepadamu dan berfirman kepadamu: Bacalah!”

Aku berkata: “Apa yang harus kubaca?”

Dia berfirman:

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِّنْ رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّاࣖ

“Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi mulia.”  (QS. Maryam: 50)  [9]

 

Perjanjian Iman dengan Wilayah Amirul Mukminin As

Imam Ar-Ridha As menekankan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad Saw menjelaskan batasan iman dan kekafiran dengan merujuk kepada Amirul Mukminin As dan Ahlulbait.

Husain bin Khalid, salah satu sahabat Imam al-Baqir dan Imam as-Sadiq As, meriwayatkan bahwa Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari ayah-ayah beliau yang mulia dari Amirul Mukminin As bahwa Rasulullah As bersabda: “Barangsiapa ingin berpegang teguh pada agamaku dan naik ke kapal keselamatan setelahku, hendaklah ia mengikuti Ali bin Abi Thalib As; jadilah musuh bagi musuh-musuhnya dan sahabat bagi sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya ia adalah penggantiku dan penerusku selama hidupku dan setelah kematianku; ia akan menjadi Imam setiap Muslim dan pemimpin setiap orang beriman setelahku. Perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku, larangannya adalah laranganku, dan pengikutnya adalah pengikutku; dan penolongnya adalah penolongku. Barangsiapa meninggalkannya, sesungguhnya ia telah meninggalkanku.”

Kemudian beliau berkata: Barangsiapa menjauhkan diri dari Ali setelahku, aku tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat, dan dia pun tidak akan melihatku; barangsiapa menentang Ali, Allah akan mengharamkan surga baginya dan menjadikan tempatnya neraka. Barangsiapa berhenti membantu Ali, Allah tidak akan menolongnya pada Hari Kiamat; tetapi barangsiapa membantu Ali, Allah akan menolongnya pada Hari Pertemuan dengan Tuhannya dan akan membekali telinganya dengan bukti-bukti Allah ketika ia ditanya.

Ia melanjutkan: “Hasan dan Husain As adalah, setelah ayah mereka, dua pemimpin umat dan dua pemimpin pemuda penghuni surga; ibu mereka adalah pemimpin wanita di seluruh dunia dan ayah mereka adalah pemimpin para washi. Ada sembilan Imam dari keturunan Husain As, yang kesembilan adalah Qaim dari keturunanku; menaati mereka adalah ketaatan kepadaku dan tidak menaati mereka adalah ketidaktaatan kepadaku.

Aku mengadu kepada Allah tentang orang-orang yang mengingkari nikmatnya dan menghancurkan hak-hak mereka setelah kepergianku; dan cukuplah Allah yang mencintai dan menolong keturunanku dan para Imam umat, dan membalas dendam kepada orang-orang yang mengingkari hak-hak mereka:

وَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَࣖ

“Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.” (QS. As-Syu’ara: 227)  [10]

 

Menyeberangi Sirat dengan Wilayah Amirul Mukminin

Imam Ar-Ridha As telah menyatakan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad Saw telah menggambarkan keteraniayaan dan kedudukan tinggi Amirul Mukminin As pada Hari Kiamat, di mana kemenangan di Sirat dan masuk Surga hanya bisa diwujudkan dengan wilayah Amirul Mukminin.

Ibrahim bin Abi Mahmud, salah seorang sahabat Imam Al-Kazhim dan Imam Ar-Ridha As, meriwayatkan bahwa Imam Ar-Ridha As meriwayatkan dari ayah-ayah beliau yang mulia bahwa Amirul Mukminin As bersabda bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Wahai Ali! Engkau akan dizalimi setelahku; celakalah orang yang menzalimimu, dan berbahagialah orang yang mengikutimu dan tidak mengutamakan siapa pun di atasmu. Wahai Ali! Engkau adalah orang yang akan diperangi setelahku; celakalah orang yang memerangimu, dan berbahagialah orang berperang bersamamu. Wahai Ali! Engkau adalah orang yang berbicara dengan kata-kataku dan berbicara dengan lidahku setelahku; celakalah orang yang menolak kata-katamu, dan berbahagialah orang yang menerima kata-katamu.

Wahai Ali! Engkau adalah pemimpin umat ini, Imam dan Khalifahnya setelahku; siapa pun yang berpisah darimu akan berpisah dariku pada Hari Kiamat, dan siapa pun yang menyertaimu akan bersamaku.”. Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan mengakui keberadaanku; orang pertama yang membantuku dalam perjuanganku dan memerangi musuh-musuhku; dan orang pertama yang berdoa bersamaku ketika manusia masih lalai dan bodoh.

Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang bangkit dari bumi bersamaku pada Hari Kiamat dan orang pertama yang menyeberangi Sirat bersamaku. Tuhanku telah bersumpah demi keagungannya bahwa tidak seorang pun akan menyeberangi Sirat kecuali orang yang berpegang teguh pada wilayahmu dan wilayah para Imam dari keturunanmu, mereka akan selamat api neraka.

Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang memasuki telaga (Kautsar) dan memberi minum para sahabatmu darinya serta menjauhkan musuh-musuhmu darinya. Engkau akan bersamaku pada saat aku berada di Maqam Mahmud, memberi syafaat bagi para sahabat kita dan syafaatmu akan diterima.

Wahai Ali! Engkau adalah orang pertama yang memasuki Surga, memegang panji di tanganmu, yaitu panji al-Hamd dan panji itu memiliki tujuh puluh bagian, setiap bagiannya lebih lebar dari bulan dan matahari. Engkau adalah pemilik pohon Tuba di Surga, akarnya ada di rumahmu, dan cabang serta daunnya ada di rumah-rumah para pengikutmu dan para sahabatmu.” [11]

 

Sumber:

  1. Uyun Akhbar ar-Ridha, Jilid 2, Hal. 358
  2. Ta’wilat al-Ayat az-Zhahirah, Jilid 1, Hal. 297
  3. Uyun Akhbar ar-Ridha, Jilid 1, Hal. 134
  4. Ma’ani al-Akhbar, Jilid 1, Hal. 371
  5. Uyun Akhbar ar-Ridha, Jilid 2, Hal. 9
  6. Uyun Akhbar ar-Ridha, Jilid 2, Hal. 13
  7. Amali as-Shaduq, Jilid 1, Hal. 18
  8. Tafsir al-Ayyasyi, Jilid 1, Hal. 194
  9. Syawahid at-Tanzil, Jilid 1, Hal. 463
  10. Kamal ad-Din wa Tamam an-Ni’mah, Jilid 1, Hal. 260
  11. Uyun Akhbar ar-Ridha, Jilid 1, Hal. 303

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *