Sekelompok ulama hadits meriwayatkan bahwa kata-kata terakhir yang diucapkan Rasulullah Muhammad Saw di saat-saat terakhir hidupnya adalah, “Tidak, bersama Yang Maha Tinggi.”
Tampaknya malaikat wahyu memberinya pilihan pada saat ajal menjemput, apakah ia akan kembali ke dunia ini atau apakah malaikat utusan tuhan akan membawa nyawa beliau yang mulia dan segera menuju ke tempat lain.
Dengan mengucapkan kata-kata “Tidak, bersama Yang Maha Tinggi,” Rasulullah Muhammad Saw menyampaikan kepada malaikat utusan tuhan bahwa beliau ingin segera menuju ke tempat lain dan bersama orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini.
Ayat 69 Surah An-Nisa:
فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا
“mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Rasulullah Saw mengucapkan kalimat ini dan mata serta bibirnya menutup.
Izrail meminta izin untuk membawa ruh Rasulullah Saw
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa: “Rasulullah Saw pingsan sejenak ketika sakit dan pada saat itu ada yang mengetuk pintu rumah.
Sayyidah Fatimah As bertanya: Siapakah kamu?
Orang yang mengetuk pintu itu menjawab: Saya orang asing, saya datang untuk meminta izin kepada Rasulullah Saw. Apakah Anda mengizinkan saya masuk menghadap beliau?”
Sayyidah Fatimah As berkata: Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Sekarang Rasulullah Saw sedang sakit.
Orang asing itu pergi dan kembali beberapa saat kemudian, mengetuk pintu rumah dan berkata: Ada orang asing yang hendak meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk masuk. Apakah Anda mengizinkan orang asing masuk?
Pada saat itu, Rasulullah Saw tersadar dan berkata: “Wahai Fatimah! Tahukah kamu siapa orang ini? Dialah yang memecah persatuan. Dialah Malaikat Maut (Izrail). Demi Allah, dia tidak meminta izin kepada siapa pun sebelumku dan tidak akan meminta izin kepada siapa pun setelahku. Dia meminta izin kepadaku karena kedudukan mulia yang kumiliki di sisi Allah. Izinkan dia masuk.”
Sayyidah Fatimah As berkata kepadanya: “Masuklah, semoga Allah merahmatimu.”
Izrail memasuki rumah Rasulullah Saw seperti hembusan angin sepoi-sepoi dan berkata: “Salam sejahtera atas keluarga Rasulullah Saw.”
Allah Yang Maha Kuasa mengirimkan salamnya kepadamu dan telah memerintahkanku untuk tidak mengambil jiwamu tanpa izinmu.
Rasulullah Saw bersabda: “Aku memiliki permintaan kepadamu, tunggu sampai Jibril juga datang.”
Pada saat itu, Jibril tiba di hadapan Rasulullah Muhammad Saw dan Rasulullah berkata: Engkau meninggalkanku sendirian dalam situasi seperti ini.
Jibril berkata: Ada kabar baik yang kubawakan untukmu.
Rasulullah Saw bertanya: Kabar baik apakah itu?
Jibril berkata: Api neraka padam dalam rangka kedatanganmu ke surga dan surga telah dihiasi, dan para bidadari bermata hitam berdiri berjejer dan para malaikat memuji kedatangan jiwamu.
Rasulullah Saw berkata: Betapa indahnya! Apakah engkau punya hal lain untuk disampaikan?
Jibril berkata: Surga diharamkan bagi para nabi sebelum engkau masuk.
Rasulullah Saw berkata: Tambahkanlah kabar baik.
Jibril berkata: Allah telah memberikan kepadamu apa yang belum pernah diberikan kepada nabi lain, yaitu Telaga Kautsar, kedudukan yang istimewa dan syafaat umat, yang hanya untukmu.
Rasulullah Saw berkata: Mendengar kabar baik ini, hatiku tenang dan aku merasa puas. Wahai Malaikat Maut! “Mendekatlah dan ambillah jiwaku.”
Sumber:
- A’lam al-Wara, Hal. 83
- Furugh-e Abadiyyat, Ayatullah Subhani, Hal.940
- Kuhl al-Bashar, Hal. 192
- Tairkh-e Anbiya, Sayyid Nabiyuddin Awliyai, Hal. 720